Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan

Senin, 21 November 2011

Beberapa hal tentang dakwah



Beberapa waktu yang lalu, ada seorang teman bertanya kepada saya, yang intinya begini:

1.   Banyak orang berargumen bahwa berdakwah dengan materi yang itu-itu saja, maka akan memubadzirkan banyak hal. Bagaimana menyikapi hal ini?
2.   Kenapa umat Islam tidak berdakwah fokus pada bidang-bidang tertentu saja sebagaimana yang dilakukan orang Kristen? Misalnya di bidang pendidikan atau kesehatan.
3.   Bagaimana dengan nasyid yang digunakan untuk berdakwah? Apakah itu efektif atau tidak? Sebab ada yang bilang hal itu adalah efektif untuk berdakwah.

Menurut saya, begini:
Memang benar, bahwa dakwah itu aktivitas menyeru kepada kebaikan mencegah dari perbuatan yang munkar. Orang yang fokus dakwahnya pada permasalahan-permasalahan fikih maka akan memfokuskan pada pembahasan masalah fikih seperti salat, puasa, zakat, dan ibadah-ibadah mahdhah lainnya. Demikian pula seseorang yang berdakwah dalam bidang yang lainnya.

Dakwah memang harus memiliki skala prioritas dan arah dakwah yang jelas. Tidak hanya itu. Dakwah harus benar-benar fokus ke titik permasalahan atau inti permasalahan. Jika dakwah hanya berkutat pada permsalahan cabang, maka hal itu hanyalah upaya tambal sulam yang tidak akan bisa menyelesaikan permasalahan.

Kadang-kadang argumentasi seseorang adalah dakwah itu harus ke bidang masing-masing. Misalnya, dakwah dalam bidang pendidikan, dalam bidang kesehatan, dalam bidang perburuhan/ketenagakerjaan, seni, pertanian, dan lain-lain.

Berkaitan dengan hal tersebut, maka jawabannya adalah sebagai berikut.
Kita semua harus paham, bahwa fokus permasalahan umat sebagaimana yang dipandang oleh hizb adalah ‘melangsungkan kehidupan Islam’. Itulah permasalahan umat. Permasalahan umat, bukan masalah akhlak. Permasalahan umat, bukan masalah ekonomi. Permasalahan umat bukanlah prmasalahan kemajuan sains dan teknologi. Tetapi permasalahan umat adalah ‘melangsungkan kehidupan Islam’. Itulah permasalahan umat.

Ketiadaan kehidupan Islam itulah permasalahan umat islam yang sesungguhnya. Ketiadaan instaitusi penegak Islam secara kaffah itulah permasalahan umat. Ini adalah qadhiyah mashiriyah (permasalahan utama dan terpenting) dalam diri kaum muslimin. Dengan memahami hakikat qadhiyah mashiriyah itu, maka seseorang akan berusaha untuk menyelesaikannya terlebih dahulu. Mengapa? Ya namanya juga permasalahan utama. Sehingga, jika permasalahannya adalah ketiadaan khilafah Islam, maka dakwah yang harus didahulukan adalah dakwah menuju tegaknya khilafah Islam. Sebab, tegaknya khilafah Islam adalah tegaknya kehidupan Islam.

Jika yang dimaksudkan adalah objek dakwahnya seperti dokter, guru, saintis, atau yang lainnya, maka jawabannya adalah sama. Sebab, pada hakikatnya manusia itu memiliki potensi hidup yang sama. Mereka memiliki akal pikiran yang mampu membedakan mana roti mana granat, mana manis mana pahit, dan sebagainya.

Yang membedakan hanyalah fokus kajiannya saja. Seorang dokter tentu lebih fokus ke bidang kesehatan, bukan kemiliteran. Seorang guru fisika pasti fokus ke bidang fisika (eksak) bukan ke bidang IPS atau yang lainnya. Hal itu bukanlah penghalang untuk berdakwah kepada tegaknya khilafah. Sebagaimana telah dijelaskan di atas, semua bidang bisa digunakan untuk menyampaikan dakwah ‘melanjutkan kehidupan Islam’ sebab, semua itu juga merupakan bagian dari kehidupan manusia.

Objek dakwah yang belum paham akan wajibnya salat tentu berbeda dengan objek dakwah yang sudah paham akan salat. Yang belum paham maka akan cukup bermanfaat. Tetapi bagi yang sudah paham, akan terkesan mubadzir. Ini benar adanya. Kadang-kadang orang mengulang-ulang dengan alasan mengingatkan. Ini sah-sah saja.

Demikian pula dakwah ‘melanjutkan kehidupan Islam’. Bagi yang belum paham, tidak akan mubadzir. Bagi yang sudah paham, maka ini akan mengokohkan kegigihan mereka.

Semua tinggal cara pandang seseorang terhadap qadhiyah mashiriyahnya. Dan permasalahan utama kaum muslim saat ini, bukanlah masalah fikih, tetapi tegaknya kehidupan Islam dalam bingkai khilafah Islam.

Dakwah untuk melanjutkan Islam juga tidak bisa dikatakan membebani orang. Sebab setiap kewajiban tidak akan bisa dipandang sebagai sebuah beban. Ilmu Islam itu memang banyak. Dan setiap orang wajib untuk mempelajarinya. Sehingga tidak bisa dikatakan membebani orang ketika kita menyampaikan ilmu-ilmu Islam. Kita hanya menegaskan bahwa ilmu-ilmu Islam itu banyak, dan setiap muslim memang wajib mempelajari. Tidak ada istilah membebani. Sebab kita tidak menambah-nambah satu hukum atau satu ilmu. Kita hanya menyerukan saja, bahwa umat Islam memang wajib menuntut ilmu (baik itu fikih, ibadah, muamalah, dan lain sebagainya). Masalah orang meerima atau tidak, itu pilihan mereka bukan urusan kita. Urusan kita hanyalah menyampaikan saja.

Lalu bagaimana dengan dakwah di bidang yang lain? Seperti kesehatan, pendidikan, dan lain sebagainya seperti yang dilakukan banyak orang termasuk orang kafir?

Benar, bahwa permasalahan umat Islam sudah sangat kompleks. Sehingga ada yang berpendapat hendaknya umat Islam mempelajari bidang-bidang tertentu untuk berdakwah di bidangnya tersebut. Ini benar. Memang seperti inilah adanya. Tetapi tetap saja, konten atau materi yang didakwahkan memang harus qadhiyah mashiriyah. Orang Islam mempelajari kesehatan, bukan untuk menarik agar orang masuk Islam dengan kebaikan-kebaikan pelayanan yang dia berikan. Tetapi, dengan mempelajari bidang kesehatan hendaknya seorang muslim bisa menjadikannya sebagai salah satu bahan (media) untuk mendakwahkan islam dalam bidang kesehatan.

Bagi orang Islam, dakwah dalam bidang apapun tidak masalah. Asal dia memahami betul hakikat qadhiyah mashiriyahnya. Jika dia berdakwah melalui dunia pendidikan, maka dia akan menyampaikan bagaimana Islam menyelesaikan permasalahan dalam bidang pendidikan, apa kurikulumnya, pengurusannya, dan sebagainya. Demikian pula dalam bidang kesehatan. Dia akan mendakwahkan bagaimana cara Islam menyelesaikan permasalahan di bidang kesehatan, hukum operasi kulit, hukum perubahan kelamin, pengelolaan dan pembiayaan kesehatan oleh negara, dan sebagainya.

Sedangkan orang kafir, sebenarnya mereka tidaklah berdakwah bergerak di bidang kesehatan, pendidikan dan lain sebagainya. Mengapa? Sebab, pendidikan, kesehatan, dan semuanya itu hanyalah sarana berdakwah, bukan sesuatu yang didakwahkan. Sebab, dalam Injil (atau kitab suci agama lain) tidak pernah dijelaskan bagaimana memandang suatu permasalahan.

Sebagai contoh adalah dan kesehatan. Injil tidak pernah membahas bagaimana kesehatan itu harus diatur. Tidak. Tidak akan ditemukan di sana. Sekalipun Injil lebih tebal daripada Alquran, tetapi tidak pernah ditemukan bagaimana cara Kristen menyelesaikan problem di bidang kesehatan.

Sebab, ketika orang-orang Kristen membangun rumah sakit-rumah sakit atau sekolah-sekolah Kristen, itu hanyalah sarana untuk mengkristenkan orang. Melalui dua bidang itu, mereka berupaya mengkristenkan orang. Baik itu dengan kurikulum untuk bidang pendidikan, atau dengan ‘kebaikan-kebaikan’ pelayanan dalam bidang kesehatan. Sehingga mereka berharap, dari situ akan ada orang yang mau diajak masuk Kristen dan meninggalkan ajaran agama mereka.

Dari sini, jelas sekali perbedaan yang dituntut Islam dan yang dituntut Kristen. Yang dituntut Islam adalah kesadaran orang untuk masuk Islam. Setelah melalui proses berpikir yang mendalam, kemudian mereka sadar bahwa mereka harus masuk Islam. Seperti inilah yang ditempuh Rasulullah saw. Ingat, Islam itu bukanlah agama doktrin.

Islam tidak pernah mengajarkan agar umatnya untuk berdakwah dengan cara berakhlak, kemudian setelah itu orang yang mengetahui kebaikan akhlak Islam, maka akan ada orang masuk islam. Tidak. Islam tidak seperti itu. Rasulullah saw. berakhlak baik, bukan agar orang masuk Islam. Tetapi ketika Rasulullah berakhlak baik, itu hanyalah melaksanakan perintah Allah. Kalaupun ada orang yang  masuk Islam, karena mengetahui kebaikan akhlak Rasulullah, mereka juga masih harus dituntut kesadarannya bahwa Islam memang agama yang benar. Bukan setelah masuk Islam karena kagum akan akhlak Rasulullah, kemudian selesai. Tidak. Tidak demikian. Semuanya butuh yang namanya kesadaran.

Tetapi tidak bagi orang-orang Kristen. Mereka membiayai orang Islam untuk sekolah, kuliah, atau menggratiskan kesehatan di rumah sakit-rumah sakit Kristen, itu hanyalah merupakan doktrin. Orang-orang Islam yang masuk atau kagum akan sikap orang-orang Kristen ini, sebenarnya tidaklah paham dan mantap keyakinannya. Mereka hanya kagum untuk sesaat saja.

Ada juga orang yang ‘berdakwah’ dalam bidang seni seperti adanya nasyid-nasyid atau grup band yang ‘Islami’ seperti Wali atau grup band yang menghasilkan album religi. Mereka berasumsi, bahwa dengan cara seperti itu mereka akan dapat mengubah seseorang dari yang kepribadiannya tidak Islami menjadi orang yang memiliki kepribadian Islami. Asumsi ini kurang tepat. Kesimpulan ini didasarkan pada asumsi, ‘ketika orang mendengar nyanyian religi, maka dia akan mampu mengapresiasikan diri dalam hal-hal yang sifatnya keagamaan’. Asumsi ini tidak tepat.

Lihatlah orang-orang yang menyanyikan lagu-lagu religi itu. Adakah terlihat dari pola sikap dan pola pikirnya setelah mereka menyanyikan album religi? Justru itu sekarang malah menjadi bisnis tersendiri yang mampu meraup berbagai keuntungan materi.

Jika dibilang positif, memang keberadaan nasyid-nasyid itu memang positif. Tetapi dari sisi keefektifan dakwah, jelas hal tesebut jauh. Lihatlah ustadz-ustadz yang suka menyanyikan lagu religi itu. Jika ditanya bagaimana pandangan mereka tentang penerapan hukum Islam, apa yang akan mereka katakan? Bahkan selama ini tidaklah pernah terdengar bagaimana ustadz-ustadz dan grup-grup band yang suka menyakikan lagu religi itu menyanyikan lagu bertma penerapan syariat Islam, melangsungkan kehidupan Islam, tegaknya khilafah Islamiyah, dan lain sebagainya.

Rata-rata nasyid-nasyid itu kebanyakan hanyalah nasyid yang banyak membahas tentang akhlak dan pembinaan diri. Tetapi, pembinaan diri itu pun tidak dibarengi dengan peningkatan kualitas kesadaran diri akan pentingnya penerapan syariat Islam.

Namun demikian, sah-sah saja orang berdakwah dengan uslub apa pun, selama tidak melanggar syariat, termasuk melalui musik.

Demikianlah jawaban saya











Rabu, 09 November 2011

If..



Teruntuk :
yang baru saja menikah, yang sudah menikah, yang akan menikah dan yang sedang mencari, khususnya yang sedang mencari..hehe..


If

Jika kamu memancing ikan…..
Setelah ikan itu terikat di mata kail, hendaklah kamu mengambil Ikan itu…..
Janganlah sesekali kamu lepaskan ia semula ke dalam air begitu saja….
Karena ia akan sakit oleh karena bisanya ketajaman mata kailmu dan mungkin 
ia akan menderita selagi ia masih hidup.

Begitulah juga setelah kamu memberi banyak pengharapan kepada seseorang… .
Setelah ia mulai menyayangimu hendaklah kamu menjaga hatinya…..
Janganlah sesekali kamu meninggalkannya begitu saja……
Karena ia akan terluka oleh kenangan bersamamu dan mungkin tidak dapat 
melupakan segalanya selagi dia mengingat… ..

If

Jika kamu menadah air biarlah berpada (seadanya), jangan terlalu mengharap pada takungannya dan janganlah menganggap ia begitu teguh……
cukuplah sekadar keperluanmu. ……
Apabila sekali ia retak tentu sukar untuk kamu menambalnya semula……
Akhirnya ia dibuang….. .
Sedangkan jika kamu coba memperbaikinya mungkin ia masih 
dapat dipergunakan lagi…..

Begitu juga jika kamu memiliki seseorang (kawan), 
terimalah seadanya…. .
Janganlah kamu terlalu mengaguminya dan janganlah kamu menganggapnya 
begitu istimewa…. .
Anggaplah ia manusia biasa. Apabila sekali ia melakukan kesilapan, 
bukan mudah bagi kamu untuk menerimanya. 
Akhirnya kamu kecewa dan meninggalkannya.
Sedangkan jika kamu memaafkannya boleh jadi hubungan kamu akan 
terus hingga ke akhirnya….

If
 
Jika kamu telah memiliki sepinggan nasi yang pasti baik untuk dirimu,
mengenyangkan, berkhasiat,
Mengapa kamu berlengah, coba mencari makanan yang lain….
Terlalu ingin mengejar kelezatan. Kelak, nasi itu akan basi dan kamu 
tidak boleh memakannya, kamu akan menyesal.

Begitu juga jika kamu telah bertemu dengan seorang insan 
yang membawa kebaikan kepada dirimu, menyayangimu, mengasihimu, 
Mengapa kamu berlengah, coba bandingkannya dengan yang lain. 
Terlalu mengejar kesempurnaan, kelak kamu akan kehilangannya.
Apabila dia menjadi milik orang lain,
kamu juga akan menyesal.

If
 
Safruddin.wp

Selasa, 11 Oktober 2011


Ilmu adalah sumber kebijaksanaan, Ilmu meninggikan derajat kemuliaan Ilmu adalah perisai kerendahan dan kehinaan Maka luangkan waktumu untuk menuntut ilmu Luangkan waktumu untuk membaca buku….


Akal pikiran adalah anugerah tak ternilai Pikiran adalah sumber kekuatan tak terbatas Pikiran adalah bekal kesempurnaan manusia Maka luangkan waktumu untuk berpikir Memberdayakan akal pikiranmu…


Berkarya adalah nilai keberhasilan manusia Bekerja adalah jalan mencapai kesuksesan Mencipta adalah kekuatan manusia Maka luangkan waktumu untuk bekerja Luangkan waktumu untuk mencipta dan berkarya Agar hidupmu menjadi lebih bermakna


Hati adalah sumber keikhlasan Ikhlas adalah sumber kemuliaan manusia Hati tempat bersemayamnya sifat-sifat kemuliaan Kemuliaan adalah derajat tertinggi kehidupan Maka luangkan waktumu untuk memperkaya hati Dengan menjaga kejernihan dan keikhlasan


Memberi adalah imbalan bagi kekayaan diri sendiri Memberi adalah jalan menuju kebahagiaan Memberi adalah bagian dari beramal ibadah Maka luangkan waktumu untuk banyak memberi Sediakan waktumu untuk banyak beramal Karena memberi dan beramal adalah kunci menuju surga-Nya

Berdoa adalah ikhtiar batin tertinggi di bumi Berdoa adalah sumber kekuatan luar biasa Maka luangkan waktumu untuk berdoa kepada-Nya Hadirkanlah ALLAH Swt dalam setiap langkah kehidupanmu Karena ALLAH adalah penolong terbaik kita...

m.ind.id

Tantangan Itu Selalu ADA



Dalam hidup, tantangan itu selalu ada. Apa pun profesi Anda, Anda akan selalu berhadapan dengan tantangan. Atau.. Anda menyebutnya dengan nama “masalah”?

Terserah apakah Anda menyebutnya masalah atau tantangan, salah satunya akan selalu datang. Oleh karena itu, kita perlu memiliki kemampuan untuk mengatasinya. Lalu bagaimana cara menghadapi tantangan? Silahkan lanjutkan membaca.Pertama: yakinlah bahwa setiap Anda mengalahkan sebuah tantang… Anda akan mendapatkan sebuah kepuasan tersendiri. Buktinya? Banyak orang yang sengaja mencari tantangan. Karena mereka sudah merasakan bagaimana kepuasan setelah menaklukan tantangan.

Anda tidak perlu seperti mereka, tidak perlu mendaki tebing yang terjal, melakukan aksi berbahaya, menyebrang selat dengan berenang, dan sebagainya. Anda bisa memilih tantangan yang memberikan manfaat bagi karir dan bisnis Anda. Saat Anda mengalahkan tantangan, maka karir dan bisnis Anda akan maju pesat.

Contoh tantangan dalam bisnis: Menaikan pendapatkan 2 kali lipat dalam 3 bulan. Berani?

Kadang tantangan datang tanpa kita cari. Bisa jadi datang dari persaingan yang tidak bisa kita hindari. Tidak perlu takut, tidak perlu mengeluh, dan jangan dijadikan masalah atau hambatan. Itu adalah tantangan yang perlu Anda taklukkan.

Kedua: fokuslah pada tujuan Anda. Seorang pendaki gunung, dia fokus untuk sampai ke puncak. Dia tidak melihat ke bawah terus menerus. Fokus dia bagaimana sampai ke puncak dengan cara mengalahkan tantangan yang ada tepat di hadapan dia. Jika Anda fokus pada tujuan, pikiran Anda akan terpacu untuk mengalahkan tantangan. Bukan mengeluh.

Ketiga: kembangkan kreativitas Anda. Orang yang menyerah ialah orang yang tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Padahal, masih banyak ide yang bisa dilakukan. Tugas Anda ialah menggali ide-ide tersebut kemudian mencobanya untuk mengatasi tantangan di hadapan Anda.

Keempat: jagalah motivasi Anda. Mengatasi tantangan seperti mendaki gunung. Perlu energi yang besar. Oleh karena itu tingkatkan motivasi Anda dan jagalah agar tidak turun. Banyak orang yang kalah dari tantangan karena dia tidak memiliki motivasi yang kuat.

Kelima: langlah demi langkah. Bagaimana cara orang mendaki gunung tertinggi di dunia? Selangkah demi selangkah. Jadi meski tantangan Anda sebesar gunung… bagi-bagilah menjadi rencana harian. Ambil tindakan setiap hari, fokus, dan sabar...